Bukan sensitif terhadap makhluk ghoib ya. 😀
Melainkan sensitif terhadap informasi.
===
"Maksudnya?"
Gini.
↓
Menurut NLP, manusia tidak merespon dunia sebagaimana adanya.
Nah, yang manusia respon itu adalah "model dunia".
Apa itu model dunia?
Model dunia adalah gambaran / pemodelan / representasi dunia sebenarnya (dunia luar) dalam pikiran kita.
Dan kita sebagai manusia, berperilaku ngikutin data/blueprint yang ada pada model dunia ini.
===
Dalam perjalanan terbentuknya model dunia…
Ada tahapan yang dinamakan: filtering.
Teknisnya:
- Apa yang kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan, itu adalah input sensorik yang kelak akan menjadi bagian dari model dunia kita.
- Nah, sebelum model dunianya terbentuk, secara alami setiap input tersebut akan disaring dulu oleh filter mental (internal processing filter).
Caranya? Ada tiga:
- Deletion: menghapus / mengabaikan sebagian input yang dianggap kurang penting / tidak menarik.
- Distortion: menetapkan makna subjektif dari input yang masuk berdasarkan model dunia yang udah ada sebelumnya, yang bisa jadi makna tersebut tidak sejalan dengan fakta.
- Generalization: menyamaratkan, atau menarik kesimpulan bahwa pengalaman itu selamanya akan begitu berdasarkan satu / dua input pengalaman saja.
Nah, berkat mekanisme filtering ini, akhirnya terbentuk deh model dunia yang "sempit".
Sempit disini maksudnya adalah model dunia yang maknanya tidak lengkap, terdistorsi, dan digeneralisasi.
Karena ucapan manusia berasal dari model dunianya, maka gak heran kalau setiap apa yang diucapkan seseorang sering banget informasinya tidak lengkap, terdistorsi, dan digeneralisasi.
===
"Contohnya?"
Anda bisa lihat disini ya.
Silahkan Anda lihat dulu, lalu kembali lagi kesini.
…
Gimana udah?
Kalau udah, mari kita lanjut.
↓
Sekilas, pernyataan diatas mungkin terdengar realistis.
Tapiiii….
- Apa iya, punya pasangan harus siap menambah masalah?
- Kalau iya, emang masalah dalam hal apa? Masalah keuangan? Masalah ngobrol yang gak nyambung? Atau masalah apa tepatnya?
- Lalu, emang kata siapa punya pasangan malah nambah masalah? Kata tetangga? Orang tua? Atau jangan-jangan kata sinetron?
Nah, kalau Anda jeli, makna-makna "sempit" seperti ini mudah Anda temukan di kehidupan sehari-hari lhoooo..
Semua ini terucap begitu aja dari orang-orang, tanpa disadari.
===
"Duh, berarti ini buruk dong?"
Gak juga.
Kenapa demikian? Jawabannya demi efisiensi kerja otak.
Penjelasannya gini:
↓
Setiap detik, input dari panca indera sangatlah banyak.
Makanya, semua input tersebut harus disaring dulu biar otak kita gak kewalahan menampung itu semua.
Wah, kalau gak ada filter ini..
Bisa-bisa otak kita nge-lag tuh, kayak HP atau komputer yang memori penyimpanannya kepenuhan.
===
"Jadi Best practice-nya gimana?"
Kalau dalam konteks berkomunikasi, Anda disarankan lebih jeli untuk menangkap:
- Deletion,
- Distortion,
- & Generalization
dari perkataan orang-orang.
Ketika Anda ngeuh akan hal ini:
- Anda akan mampu menerima informasi dari lawan bicara dengan lebih baik.
- Sehingga, cara Anda merespons akan lebih presisi.
- Dan akhirnya, kesalahpahaman pun bisa dihindari.
===
Atau:
- Sebenarnya, pola internal processing filter bisa kita identifikasi untuk keperluan modelling lhoooo..
- Sebuah perilaku excellence salah satu landasannya adalah internal processing filter.
- Jadi, pola ini berguna dalam konteks memodel suatu ekselensi.
===
Kesimpulannya?
- Internal processing filter adalah cara agar otak kita tetap berfungsi dengan baik ditengah massive-nya gempuran informasi dari panca indera.
- Cuman, hal ini menyebabkan terbentuknya model dunia yang "sempit".
- Best practice dalam konteks komunikasi? Ngeuh akan tiga pola internal processing filter (penghapusan informasi, distorsi, dan generalisasi), maka Anda akan mampu menerima dan merespons dunia luar dengan lebih baik.
===
Punya Pertanyaan?
Chat kesini ya.
Haris Maulana
WhatsApp: 0881-7877-372
